Tulisan ini dibuat dalam rangka Nice Homework (tugas) 7 kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional
Lampirkan hasil ST30 (Strenght Typology) di Nice Homework #7
Sebetulnya sebelum mendapatkan tugas matrikulasi ini, saya sudah pernah melakukan tes dari temubakat.com sebanyak dua kali. Ditambah tes yang saya lampirkan ini, berarti saya sudah mengikuti tes untuk yang ketiga kalinya. Hasil ketiganya tidak pernah persis sama, tetapi potensi kekuatan yang selalu muncul di setiap tes biasanya disekitar commander, communicator dan designer.
Berikut adalah hasil lengkapnya:
Buatlah kuadran aktivitas anda, boleh lebih dari 1 aktivitas di setiap kuadran:
Tulisan ini dibuat dalam rangka Nice Homework #6 Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional
Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting, dan 3 aktivitas yang paling tidak penting Paling Penting: - Mengurus diri sendiri, termasuk beribadah, tidur, makan dll untuk menjaga kesehatan - Aktivitas bersama keluarga - Belajar: (Belajar ilmu parenting, menjahit, membuat kue, belajar berjejaring dsb) Paling tidak penting Sejak mengikuti IIP ini, saya merasa sudah jarang sekali melakukan aktivitas yang kurang penting. Jika sedang bersama anak, saya hampir tidak pernah menonton TV, jarang pula mengintip akun-akun artis/selebgram dsb. Membalas pesan di whatsapp pun seperlunya. Kalaupun menggunakan sosial media, tujuannya hanya untuk membaca artikel dan sekedar mengetahui informasi terkini. Satu-satunya hal yang kurang penting dan masih saya lakukan adalah membaca artikel dan mencari informasi melalui telepon pintar menjelang tidur. Saya jadi sering kebablasan hingga diatas jam 2 pagi. Akibatnya, waktu tidur saya sering mundur, padahal saya sudah berbaring di kasur lebih awal. Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana? Seperti jawaban saya di atas, Habis untuk membaca artikel di Internet. Biarpun artikelnya bermanfaat, tapi saya sering tertalu asik membaca sampai terlambat untuk tidur. kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time ( misal anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)
Jadwal rutin saya saat ini telah disesuaikan dengan jadwal suami saya kuliah, mengerjakan tugas dan bertemu dengan pembimbingnya.
Subuh - jam 11 pagi, waktu untuk beribadah, sarapan, memasak dan mengurus rumah. Di waktu ini, anak bermain bersama suami.
11 pagi - 8 malam : Bermain bersama anak. Biasanya anak saya akan tidur siang selama 1 jam. ketika anak tidur siang, saya gunakan waktunya untuk melakukan aktivitas dinamis atau me time.
8 - 9 malam : Menidurkan anak
> 9 malam - 11.30 malam : belajar (melakukan aktivitas dinamis)
11.30 malam : tidur
Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan. (Contoh kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis ( memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai, sehingga muncul program 7 to 7)
Jadwal seperti di atas. Setelah jam 9 malam, saya telah mengerjakan aktivitas dinamis yang menambah jam terbang.Hanya saja, saya harus belajar patuh dan konsisten terhadap cut off time yang telah saya tentukan. Pukul 11.30 adalah waktu terakhir melakukan aktivitas dinamis. Setelah itu, waktu seharusnya saya gunakan untuk tidur malam.
Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik? kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.
Seperti yang telah saya sebutkan, jadwal di atas telah saya aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Saya melibatkan dan membuat kesepakan bersama suami ketika merancang jadwal ini. Sejauh ini, jadwal berjalan dengan baik. Sebelumnya saya merasa tidak memiliki waktu untuk melakukan beragam aktivitas dan selalu merasa dikejar-kejar oleh rutinitas tsehingga berujung kepada emosi yang kadang secara tidak sengaja dilimpahkan ke anak. Namun sejak ada jadwal ini, saya merasa lebih bahagia dalam mengurus keluarga dan masih punya waktu untuk membahagiakan diri saya sendiri.
Minggu ini, saya diberi tugas untuk membuat desain pembelajaran ala saya sendiri. Cukup menarik sebetulnya. Bayangkan saja, di kelas matrikulasi yang saya ikuti, ada sekitar 50 orang yang berpartisipasi. Seharusnya, akan ada 50 macam desain pembelajaran yang dihasilkan dari satu tugas ini. Di tugas kali ini, fasilitator sengaja tidak memberikan banyak informasi mengenai desain pembelajaran, agar menumbuhkan rasa ingin tahu peserta tentang konsep desain pembelajaran itu sendiri.
Dari tugas tersebut, desain pembelajaran seperti inilah yang saya hasilkan.
Klik Gambar Untuk Memperbesar
Dalam NWH sebelumnya, saya menulis bahwa misi hidup saya adalah melayani ibu, anak dan balita dari keluarga kurang mampu dengan cara membuat satu gerakan sosial yang dikelola dengan profesional. Ada banyak sekali tahapan-tahapan yang harus saya lalui, dan banyak sekali ilmu-ilmu yang harus dipelajari untuk mencapai misi ini. Bagaimana saya menentukan satu set ilmu yang harus dipelajari tersebut? Pertama-tama, saya menentukan desired outcome (hasil yang ingin dicapai) terlebih dahulu. Sebagai contoh, di tahun pertama, saya perlu menemukan orang yang percaya dengan ide saya, kemudian merangkul mereka agar mau terlibat secara aktif di dalam kegiatan sosial yang saya gagas. Dari tujuan ini, barulah saya menentukan ilmu-ilmu apa saja yang harus saya pelajari. Dalam kasus saya, ternyata saya perlu belajar ilmu networking dan komunikasi persuasif. Untuk cara belajarnya sendiri, saya lebih suka membaca, kemudian praktek langsung. Jika menemukan hambatan, saya akan berdiskusi dan banyak bertanya, melakukan evaluasi, kemudian kembali lagi ke praktek. Namun karena misi ini -menurut saya- cukup besar, maka saya merasa perlu untuk mencari mentor dan melakukan intern atau magang di satu yayasan sosial. Bagaimanapun juga, saya harus memahami betul bagaimana sebuah organisasi sosial menjalankan kegiatan operasionalnya. Selain itu, saya juga akan mencari orang yang bersedia untuk menjadi mentor. Target saya, yang menjadi mentor adalah orang yang memang pernah membangun gerakan sosial dari awal, sehingga kami bisa membangun diskusi yang meaningful dan mendapatkan saran yang relevan.
Tulisan ini dibuat dalam rangka Nice Homework 2 Kelas Matrikulasi Institut Ibu Profesional
Dulu sewaktu masih menjadi pekerja kantoran, mengukur profesionalisme semasa bekerja rasanya mudah sekali. Semua sudah ada indikatornya, tentu saja disiapkan oleh perusahaan. Setiap 6 bulan sekali, performance saya diukur oleh atasan dan oleh diri saya sendiri yang disebut dengan self appraisal.
Lain dulu, lain sekarang. Sejak menjadi ibu, saya belum pernah mengukur tingkat profesionalisme saya secara detail. Selama ini, saya hanya mengukur profesionalitas sebagai individu, istri dan ibu melalui kacamata sendiri, berdasarkan hal-hal yang menurut saya baik, tanpa bertanya ke klien saya, yaitu suami dan anak. Rumah berantakan? Saya langsung merasa gagal. Padahal menurut suami, bukan itu indikatornya.
Dari kelas matrikulasi, saya belajar bahwa pada akhirnya, keluarga lah yang berhak menilai profesionalitas saya. Apakah mereka sudah bangga dengan peran saya sebagai istri dan ibu? Untuk mengetahuinya, tentu saja saya harus bertanya langsung kepada mereka. Istri/ibu seperti apa yang membuat mereka bahagia? Hal ini kemudian menjadi rujukan untuk membuat checklist indikator profesionalisme saya. Sesuai dengan tugas yang diberikan oleh IIP, indikator tersebut harus spesifik, terukur, bisa dicapai, realistik dan ada batas waktunya.
Setelah ngobrol serius tapi santai bersama suami, akhirnya terjawab hal-hal apa saja yang diharapkannya dari saya. Ternyata jawabannya sesuai dengan tebakan saya, tapi versi lebih simple. Saya sampai bertanya berkali-kali, yakin rumah rapih nggak dijadiin indikator? Yakin saya nggak perlu upgrade penampilan ketika dirumah? Dan pertanyaan lainnya. Semua dijawab "nggak". Padahal saya sendiri merasa perlu upgrade penampilan karena sering keliatan kucel.
Jawaban suami langsung saya masukkan ke dalam checklist. Setelah itu kami berdiskusi kembali tentang indikator profesionalisme sebagai ibu. Karena Kautsar masih terlalu kecil, maka indikatornya saya buat bersama suami berdasarkan apa yang kautsar butuhkan saat ini. Kalau Kautsar sudah lebih besar, tentu saja checklist nya akan saya update, berdasarkan jawaban Kautsar sendiri :)
Berikut adalah checklist yang saya buat. Semoga saya bisa konsisten menjalankannya.
Silakan di klik untuk memperbesar.
PS: setelah di wawancara, suami justru meminta saya untuk menulis balik indikator apa saja yang dapat menjadikannya suami profesional dimata istri anak. I highly appreciate that :)